Seni dan Budaya

      Situs dan Cadar Budaya Dompu adalah memiliki khas yang dimiliki oleh Kabupen Dompu yang sudah menjadi sejarah tersendiri bagi Kabupaten Dompu. Kabupaten Dompu adalah salah satu kota yang terkencil dipulau Sumbawa yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kota Dompu adalah kota yang penuh dengan tahayul dan mistis yang masih tersembunyi didalam kabupaten dompu dan masih dipercayai oleh masyarakat setempat dan dompu memiliki situs dan cadar budadya yang masih tersembunyi didalamnya. 

Suna Ra Ndoso/Khitanan

Kehidupan masyarakat Suku Bima (Mbojo) di Daerah Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu tidak terlepas dari hal budaya dan membudayakan tradisi serta upacara adat. Hal ini terlihat pada aktivitas serta acara-acara yang dilaksanakan oleh masyarakat secara turun-temurun, yakni dalam bentuk prosesi adat sunatan. Daerah Dompu dan Bima, istilah sunatan disebut Suna Ro Ndoso. Prosesi sunatan sering diadakan oleh masyarakat setempat. Masyarakat masih terus melakukan prosesi Suna Ro Ndoso. Masyarakat menganggap bahwa prosesi Suna Ro Ndoso merupakan salah satu ritual adat yang memiliki kekuatan tersendiri.

Tradisi dan upacara adat Suku Bima di Daerah Kecamatana Dompu, Kabupaten Dompu memegang peranan menentukan. Prosesi adat sudah mentradisi sejak Bima kuno terutama mewarisi tradisi Hindu di masa lampau.

Ketika Islam menjadi agama Kerajaan Bima, prosesi adat menjadi alat pemersatu bagi orang-orang yang tergabung dalam tradisi. Sebut saja prosesi sunatan, yang mempunyai nilai budaya yang luar biasa, kebudayaan yang sampai sekarang ini masih tetap dilestarikan adalah upacara adat dan tradisi Suna Ro Ndoso itu sendiri.

Suna Ro Ndoso merupakan bagian dari upacara daur hidup serta prosesi adat yang senantiasa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki budaya, bukan hanya sebagai ritual semata, melainkan juga karena tradisi yang sudah mendarah daging bagi para pelaku yang senantiasa memelihara adat tersebut. Suna Ro Ndoso sendiri merupakan hal yang tidak terpisahkan bagi seseorang untuk menuju kedewasaan dalam hal ini masyarakat Suku Bima yang berada di Daerah Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu karena menurut sebagian adat dan tradisi, hal yang menandakan seseorang akan menuju kedewasaan adalah harus dengan disunat. 

Compo Sampari atau penyematan keris merupakan salah satu Budaya masyarakat suku Mbojo di Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, kegiatan tersebut diperuntukkan bagi anak laki-laki yang akan dikhitan. Apabila anak laki-laki suku Mbojo sudah dikhitan maka tidak lama lagi akan memasuki usia remaja dan akan diberlakukan aturan atau norma yang berlaku di masyarakat sesuai syariat Islam. Oleh masyarakat suku Mbojo, compo sampari merupakan kebiasaan yang dilakukan secara turun-temurun sebagai simbol untuk mengajarkan nilai-nilai ksatria pada anak bahwa laki-laki harus kuat.

Memakai keris bagi kaum laki-laki suku Mbojo pada saat menjelang khitan atau sunat yakni dalam rangka menanamkan prilaku yang mencerminkan keperkasaan, keuletan dan keberanian.

Keris merupakan lambang harga diri bagi masyarakat Bima dan Dompu yang digunakan dalam aktivitas keseharian secara positif untuk menunjang segala pekerjaan. Prosesi Compo Sampari dilakukan oleh tokoh adat, pejabat pemerintahan, dan atau orang tua agar dapat diteladani kelak menjadi seorang  kstaria yang harus berani menantang segala cobaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dalam kehidupan bermasyarakat. 

Melakukan ritual Compo Sampari diawali dengan dzikir dan doa kemudian keris diarahkan mengelilingi tubuh anak yang dikhitan sebanyak tiga kali, atau tujuh kali, sambil bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw, lalu keris disematkan pada pinggang bagian kiri anak. Proses penyematan keris dilakukan dengan cara berdiri dan saling berhadapan antara anak yang dikhitan dengan orang yang akan menyematkan keris.  Usai menyematkan keris ditutup dengan shalawat Nabi dan “Maka”, yakni gerakan hentakan kaki ke bumi sambil mengacungkan keris.

         Dalam Suna Ra Ndoso dilakukapan pada saat pada anak laki-laki dan perempuan yang dinamakan Saraso bagi perempuan dan adat istiadat ini sudah dilakukan sejak jamn terdahulu yang menjadi nenek moyang mereka dan suna ra ndoso atau saraso ini biasanya disediakan berupa Soji Genda atau sesajen.

Tari Wura Bongi Monca

Tari Wura Bongi Monca adalah salah satu tarian selamat datang atau penyambutan tamu dari Bima, NTB. Tarian ini dilakukan oleh penari perempuan secara berkelompok dengan gerakan yang lemah lembut sambil menaburkan beras kuning sebagai simbol penghormatan dan harapan. Tari Wura Bongi Monca ini merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal dan masih sering dipentaskan di berbagai acara di daerah Bima, NTB. 

               Sejarah Tari Wura Bongi Monca

Menurut beberapa sumber yang ada, Tari Wura Bongi Monca ini merupakan salah satu tarian tradisional yang sudah ada dan berkembang pada masa Kesultanan Abdul Kahir Sirajuddin tahun 1640-1682. Tarian ini ditampilkan untuk menyambut kedatangan tamu istana yang sedang berkunjung. Dengan paras cantik dan gerak yang gemulai, para penari menyambut kedatangan tamu sambil menaburkan beras kuning sebagai simbol penghormatan dan harapan. Nama Tari Wura Bongi Monca sendiri diambil dari bahasa Bima yang berarti menabur beras kuning. Sehingga tarian ini dapat diartikan sebagai tari penabur beras kuning.

         Fungsi Dan Makna Tari Wura Bongi Monca

Seperti yang disampaikan di atas, tarian ini ditampilkan sebagai tarian penyambutan para tamu penting yang datang ke sana. Dalam tarian ini, para penari menari sambil menaburkan beras kuning sebagai tanda penghormatan dan harapan. Dalam tradisi Bima, beras kuning adalah lambang kesejahteraan dan mengandung makna-makna kehidupan di dalamnya. Selain itu bagi masyarakat Bima, tamu dianggap sebagai pembawa rejeki atau berkah, sehingga mereka menyambutnya dengan meriah sebagai tanda penghormatan, doa, dan rasa syukur.

                 Pengiring Tari Wura Bongi Monca

Dalam pertunjukan Tari Wura Bongi Monca ini, para penari menari seirama dengan musik pengiringnya sehingga menghasilkan gerakan yang indah. Musik pengiring tarian ini diantaranya seperti  gendang besar, gong, sarone dan tawa-tawa. Dalam mengiringi Tari Wura Bongi Monca ini, para pemusik biasanya memainkan irama yang terkesan lambat dipadukan dengan gerakan para penari.

                Kostum Tari Wura Bongi Monca

Dalam pertunjukannya, para penari dibalut dengan busana tata rias cantik khas Bima. Busana tersebut seperti baju asi pada bagian atas dan sarung songket pada bagian bawah. Pada bagian kepala, rambut digelung dan menggunakan bando atau hiasan bunga-bunga. Selain itu juga terdapat aksesoris seperti gelang dan kalung sebagai pemanis dan selendang yang digunakan untuk menari.

Tarian Wura Bongi Monca
Tari Wura Bongi Monca

                Pertunjukan Tari Wura Bongi Monca

Dalam pertunjukannya, Tari Wura Bongi Monca ini biasanya dimainkan secara berkelompok oleh 4 sampai 6 penari perempuan. Dengan senyum di wajah mereka, penari menari seirama dengan alunan musik pengiring. Gerakan dalam Tari Wura Bongi Monca ini didominasi oleh gerakan yang pelan. Sambil menari mereka menaburkan beras kuning ke arah tamu maupun sekitar panggung sebagai tanda penghormatan.

               Perkembangan Tari Wura Bongi Monca

Walaupu merupakan salah satu tarian klasik, Tari Wura Bongi Monca ini masih terus dilestarikan dan sering ditampilkan hingga sekarang. Berbagai pengembangan pun juga sudah dilakukan oleh para seniman disana baik dalam segi gerak, pengiring, kostum dan penyajian pertunjukan agar terlihat atraktif. Selain itu Tari Wura Bongi Monca ini juga masih sering ditampilkan di berbagai acara seperti penyambutan tamu maupun festival budaya sebagai usaha melestarikan, serta memperkenalkan kepada masyarakat luas atau generasi muda akan kesenian dan tradisi yang ada di Bima, NTB.

BEKAS ISTANA RAJA DOMPU

Kabupaten Dompu merupakan salah satu kabupaten di daratan Pulau Sumbawa selain Kabupaten Sumbawa dibagian barat  dan Kabupaten Bima di sebelah timur. Wilayah Kabupaten Dompu terbentang dari Teluk Saleh di sebelah barat, Teluk Cempi di Selatan, Teluk Sanggar dan Perbukitan Doroboha di sebelah utara. Seluruh wilayah ini membentuk Kabupaten Dompu dengan luas wilayah sekitar 2.324,55 kilometer persegi. Dibandingkan dengan dua kabupaten lainnya yang terdapat di Pulau Sumbawa, wilayah Kabupaten Dompu ini relatif  lebih kecil. Walaupun memiliki wilayah yang relatif  kecil dibandingkan dua kabupaten lain di Pulau Sumbawa, namun keberadaan Kabupaten Dompu sebagai suatu wilayah tidak dapat dipandang sebelah mata, karena keberadaannya telah tercatat oleh bukti-bukti sejarah sejak berabad-abad lampau.

Kerajaan Dompu telah dikenal sejak Kerajaan Sriwijaya sampai dengan masa keemasan Kerajaan Majapahit. Pada masa-masa ini, khususnya pada masa keemasan Kerajaan Majapahit, Karajaan Dompu merupakan salah satu wilayah incaran Majapahit. Dengan demikian wilayah Dompu merupakan wilayah yang mapan dan mempunyai sumber daya alam bagus yang didukung dengan keberadaan wilayah vulkanis Gunung Tambora dan wilayah perairan yang cukup luas (Armini, 2007 : 224). 

Secara administratif bekas Istana Raja Dombu terletak di wilayah Kelurahan Karijawa, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Sedangkan secara astronomis terletak pada koordinat 50 L 0660343 UTM 9055729 dengan ketinggian mencapai 344 meter diatas permukaan laut dengan luas wilayah 223,27 km2.

Ketinggian tanah wilayah Kabupaten Dompu dikelompokan atas ketinggian 0–100 (diatas permukaan laut) yang mencapai 31,28% dari luas wilayah Kabupaten Dompu atau 72.705 Ha, ketinggian 100–5000 m.dpl dengan luas tortal sekitar 107.815 Ha atau mencapai 46,38 % Ketinggian 500 – 1000 m.dpl terdapat sekitar 34.150 Ha dan ketinggian diatas 1000 m.dpl terdapat disekitar Kecamatan Pekat, Kempo dan Kilo serta Gunung Tambora. Ketinggian tanah diatas 1000 diatas permukaan laut memiliki luas total sekitar 17.785 Ha. Sedangkan untuk Kecamatan Dompu dimana Bekas Istana Raja Dompu berada wilayah yang memiliki ketinggian 0-100 meter di atas permukaan laut seluas 4824.00 Ha, wilayah yang memiliki ketinggian 100-500 meter di atas permukaan laut seluas 14982.00Ha, wilayah yang memiliki ketinggian 500-1000 meter di atas permukaan laut seluas 4965 Ha dan wilayah yang memiliki ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut seluas 13 Ha.

Kemiringan tanah di Kabupaten Dompu diklasifikasikan menjadi 4 (empat) klasifikasi yaitu 0-2% seluas 42.167 Ha, 2-15% dengan total luas sekitar 71.229 Ha, kelerengan 15-40% memliki luas mencapai 87.796 Ha dan kemiringan di atas lebih dari 40% dengan luas total 31.262 ha. Wilayah Kecamatan Dompu sendiri memiliki  kemiringan dikisaran 0-2% seluas 4710 Ha, kemiringan dikisaran 2-15% seluas 3222 Ha, kemiringan dikisaran 15-40% seluas 9913 dan kemiringan wilayah yang melebihi 40% seluas 6939.

Secara umum jenis tanah yang ada di Kabupaten Dompu sebagian besar merupakan litosol kompleks, mediteran coklat, kompleks renzina dan litosol seluas 63.194 Ha atau sekitar 27,1% dari luas wilayah Kabupaten Dompu. Sedangkan jenis tanah yang memiliki luas paling sedikit adalah jenis tanah Regosol coklat dengan luas total sekitar 1.175 Ha atau sekitar 0,5 % dari luas wilayah Kabupaten Dompu.

Geologi merupakan kondisi suatu batuan yang menyusun suatu wilayah yang terbentuk pada masa lalu. Berdasarkan peta Geologi Indonesia kondisi geologi yang terdapat di Kabupaten Dompu terdiri atas beberapa jenis batuan, yang antara lain jenis batuan gunung api tua, batuan gunung api muda, batuan terobosan, batuan alluvium serta endapan, batuan gamping berlapis dan batuan tufa dasitan.

Keadaan iklim suatu wilayah dapat dilihat dari keadaan curah hujan, hari hujan, temperatur, kelembaban relatif, kecepatan angin, dan intensitas penyinaranmatahari. Sedangkan untuk menggambarkan kondisi iklim di suatu kawasantertentu yang areanya lebih sempit dapat dilihat dari keadaan curah hujan dan harihujan yang terjadi di kawasan tersebut. Sebagaimana daerah tropis lainnya, Kabupaten Dompu hanya mengenal dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Musim hujan rata–rata mulai Oktober sampai April. Pada bulan Oktober bersampai Maret angin bertiup dari barat daya ke timur laut dengan membawa hujan. Pada musím kemarau suhu udara relatif rendah yaitu 20-30°C pada siang hari dan 20°C pada malam hari.Kabupaten Dompu memiliki iklim yang bertipe D, E dan F. Kondisi suhu udara rata–rata bervariasi antara 22,5° – 31,4° C dengan suhu maksimum rata–rata 32,2° C dan minimum 21,2° C. Suhu udara maksimum terjadi pada jam 13.00 dan minimum pada jam 05.00 Wita. Kondisi lembab nisbi rata–rata selama periode survey pada siang hari dan malam hari berkisar antara 60% dan 95%. Kondisi tekanan udara rata–rata harian memiliki fluktuasi tekanan dua kali maksimum yaitu sekitar jam 09.00 dan 23.00, serta dua kali minimum yaitu sekitar jam 17.00 dan jam 04.00 waktu setempat. Tekanan udara rata–rata  antara 1009,4 mb – 1013,1 mb. Keadaan curah hujan, hari hujan di wilayah Kabupaten Dompu sangat erat kaitannya dengan fenomena El–Nino dan La-Nina. Keadaan curah hujan di Kabupaten Dompu menunjukan bahwa rata-rata curah hujan untuk Kecamatan Hu’u adalah 64 mm/bulan, Kecamatan Dompu 110 mm/bulan, Kecamatan Kempo 60 mm/bulan, Kecamatan Woja 85 mm/bulan Kecamatan Pekat 70 mm/bulan dan Kecamatan Kilo  64 mm/bulan.

Makam Sultan SYAMSUDDIN Dorompana

DOMPU—Makam Sultan Dompu yang pertama Sultan Syamsuddin yang berjaya ditahun 1545 silam lalu ditemukan dipuncak bukit Dorompana Kelurahan Kandai I Dompu. Posisinya dipinggiran utara kota Dompu, untuk mencapai makam harus melakukan pendakian dengan ketinggian antara 30-50 meter, dari atas bukti itu dapat disaksikan potret kota Dompu serta hamparan alam yang indah.

Rabu 12/9 keturunan Sultan Dompu yang terakhir, Sultan Tajul Arifin meresmikan makam dimaksud. Diantara keturunan dan anak dari Sultan Tajul Arifin yang hadir adalah Drs Syaiful Islam, Kaharul Zaman SH dan beberapa cucunya. Ada juga Drs Sayuti Melik, Drs Syafrin AM. Sedangkan dari pemerintah hadir Kadis Pariwisata Kabupaten Dompu Ir Syarifuddin, Wakil Ketua DPRD Dompu Iwan Kurniawan SE serta tokoh masyarakat dan puluhan warga setempat.

Peresmian ditandai doa bersama yang dipimpin oleh Budi S dan Mbah Encang dari Tarekat Qadariyah Semarang. Merekalah pihak yang intens menelurusi dan menemukan kuburan Sultan sesuai dengan petunjuk yang mereka miliki.

Sumber: https://www.dompubicara.com/2012/09/ditemukan-makam-sultan-dompu-pertama

Syaiful Islam dan Kaharul Zaman dalam sambutanya menyatakan terima kasih atas ditemukan dan diresmikan makam leluhur mereka, selain menjadi menjadi Sultan yang pertama dan raja Dompu yang ke IX Sultan Syamsuddin adalah raja pertama yang membawa syiar Islam di Bumi Nggahi Rawi Pahu.

Karena itu Sultan ini bergelar Sultan Mawa’a Bata dengan memperkenalkan masyarakatnya tentang Islam. Syaiful Islam tidak ingin makam leluhurnya dikultuskan, tetapi paling tidak masyarakat Dompu dapat menggali kembali sejarah panjang perdabapan negeri Dompu. Dia meyakini pada jamanya Dompu pernah berjaya dan dikenal di Nusantara, tidak heran kerajaan Majapahit menyebut kerajaan Dompu (Dompu,red) adalah salah satu kerajaan yang harus dikuasai.

Syaiful Islam menitip pesan pada pemerintah daerah agar dapat memperhatikan makam tersebut, sehingga menjadi asset yang berharga bagi masa depan. Mantan anggota DPRD Propinsi NTB menegaskan memperhatikan makam Sultan adalah salah satu cara dalam menghargai sejarah dan budaya, dengan demikian menghargai sejarah dan budaya akan mendorong percepatan kemajuan disuatu daerah.

Sementara Kadis Pariwisata Dompu Ir Syarifuddin berjanji akan memperhatikan makam dimaksud. Dia juga berharap agar makam itu menjadi asset yang dimiliki daerah dan menjadi salah satu potensi obyek wisata budaya yang akan dikunjungi. Wakil ketua DPRD Dompu Iwan Kurniawan SE sangat mengapresiasi atas temuan makam Sultan Dompu yang pertama. Karenanya pemerintah daerah harus dapat memelihara makam itu untuk dijadikan asset yang berharga dan menjadi kebanggaan peradaban Dompu dimasa lampau.

Sebagaimana diketahui Sultan Dompu yang pertama Sultan Syamsuddin menjadi kebanggaan keturunan dan masyarakat di Bumi Nggahi Rawi Pahu. Karena itu pada saat penetapan hari jadi Dompu diera kepempinan Bupati H Abubakar Ahmad SH terjadi perdebatan yang panjang, umumnya keturunan bangsawan Dompu menginginkan sejarah Dompu dimulai dari 24 september 1545 bertepatan dengan dilantiknya Sultan Syamsuddin sebagai raja yang memerintah.

Tetapi karena kuatnya pertentangan dikalangan tokoh budaya dan masyarakat didaerah maka diambil jalan tengah bertepatan dengan meletusnya gunung Tambora 11 april 1815 sebagai hari kebangkitan Dompu yang baru setelah beberapa kerajaan lenyap ditelan bumi akibat dihantam letusan dahsyad gunung Tambora.

Karena itu tokoh muda dan LSM Akhdiyansyah, Yongki, S.Hi menganggap bahwa penetapan hari jadi Dompu 11 april 1815 adalah kecelakaan sejarah yang perlu diluruskan. Dompu menurut Yongki memiliki peradaban yang sangat lama, karena itu ada kewajiban bagi generasi sekarang untuk meluruskan sejarah dimaksud. 

Makam Sultan Syamsuddin. Sultan Pertama Dompu pada Tahun 1545 M

Makam SULTAN SYAMSUDDIN (Sultan Dompu Pertama – 1545 M) dan situs Dorompana yang berlokasi di Kel. Kandai Satu Kec. Dompu Kabupaten Dompu, situs makam sultan dompu pertama kini menjadi tempat destinasi wisata yang sering dikunjungi oleh orang-orang yang ingin datang melihat makam sultan dompu pertama yang ada di kelurahan kandai satu dorompana.

Siapa saja bisa datang dan berkunjung untuk mendo’akan sultan domppu pertama yang dimakamkan di bukit dorompana atau di sebut dengan Bukit Sultan. Situs makam sultan dompu pertama ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung dikarenakan pemandagan yag sangat indah dan bagus apalagi bisa melihat semua kota dompu dari bukit sultan dorompana ini dan disini tidak diberlakukan untuk kaum hawa menginjak makam sultan Syamsuddin ketika halangan (Keadaan Haid).

Foto Bukit Sultan